Wed, 03/17/2010 - 13:16
ANAK ADALAH WADAH
Oleh : Ust. Ngabidallah, S.Pd.I
Ada seorang teman lulusan sarjana pertanian Universitas Brawijaya Malang, saat mendapat ijasah dia segera menyerahkan kepada orang tuanya. Dia mengatakan bahwa tugasnya untuk sekolah sudah selesai. Diapun kemudian bekerja dengan profesi lain yang tak ada kaitannya dengan bidang pertanian itu bekerja. Rupanya teman saya itu kuliah hingga menjadi sarjana pertanian bukan karena keinginan dari cita-citanya. Tapi atas keinginan dan paksaan orang tuanya. Sebagai anak yang baik dia pun menuruti keinginan orang tuanya walaupun dengan berat hati.
Fenomena diatas menunjukkan bahwa ternyata banyak orang tua yang tidak memahami tentang anak-anak mereka. Pemahaman bahwa sesunguhnya anak-anak ibarat wadah yang berbeda bentuknya. Volume dari wadah, menggambarkan kapasitas dan potensinya. Bentuk dari wadah, merupakan gambaran kecenderugan dan bakatnya. Walaupun mereka dilahirkan dari bapak dan ibu yang sama. Masing-masing mereka adalah unik. Unik dari sisi kapasitas maupun kecenderungannya.
Saya pernah menjumpai keluarga yang memiliki 3 anak. Anak pertama menjadi dokter spesialis. Anak ke 2 menjadi seniman, dan yang terakhir berwirasuasta. Dan ada keluarga lain yang mempunyai 2 Anak, yang pertama selalu juara kelas, sementara adiknya masuk kelas remidial disekolahnya.
Kita tidak bisa memungkiri bahwa anak ibarat wadah yang berbeda volume dan bentuknya sebagai sebuah realita. Yang terpenting bagi kita selaku orang tua adalah bagaimana menyikapinya. Ada 2 hal yang harus diingat agar sikap kita benar ketika menjumpai realita ini.
1. Ingat bahwa keadaan anak kita boleh memilih antara memiliki IQ tinggi atau rendah tentu mereka akan memilih IQ yang tinggi.
2. Ingat bahwa anak kita adalah anugrah dari Allah SWT yang Maha Rahman. Sebagai anugrah tersebut maka kita harus mensyukurinya apapun keadaan mereka.
Tutupnya adalah Do’a
Banyak orang tua yang bisa menerima wadah anak-anak mereka. Sehingga anak menjadi korban dari cita-cita ortu yang tidak tercapai. Atau menjadi korban opsesi yang terlalu berlebihan dari orang tuanya. Padahal kapasitas anaknya tidak cukup dan kecenderungannya tidak sesuai. Jika kita melakukan ini, maka kita akanmenjumpai anak-anak yang tidak bahagia menjalani pekerjaannya walau kedudukan atau pangkatnya seolah terhormat. Atau anak kita akan kehilangan waktu dan tenaga selama bertahun-tahun demi menyenangkan hati kita.
Coba bersama kita menyadari bahwa anak merupakan wadah-wadah yang berbeda. Akankah terucap dari lisan kita, “Kamu ini koq nggak pintar kayak kakakmu yang selalu juara kelas?”. Atau akankah kita memaksa anak kita dengan mengatakan, ‘Pokoknya kamu harus sekolah yang pintar biar bisa kuliah di Fakultas Kedokteran, kalo nggak, mama nggak mau membiayai biaya kuliahmu kelak”
Kewajiban kita sebagai orang tua adalah mengisi wadah-wadah yang berbeda besar dan bentuknya itu hingga penuh, kemudian menutupnya dengan do’a-do’a kita dan nilai-nilai kesholehan. Agar kelak anak-anak kita menjadi orang yang bahagia. Bahagia bukan untuk dirinya, tapi juga untuk orang lain.
Wallahu’alam Bishowab.
- Login or register to post comments

